UMPOYA ANGIN SIA MANGRAMBU TAMPAK BELUAK

Salama’ sangmane sia ulu’ku sola nasang,salam sejahtera bagi kita semua.

Memang tiada habisnya jika kita mengulas tentang keunikan di bumi lakipadada Sangtorayan,Bahkan sebagian orang memandang beberapa diantaranya seakan itu adalah sebuah fenomena kontroversial namun walaupun begitu adanya kita ada di masa sekarang ini karena masa lalu kita,sebelumnya kita pernah membahas mengenai Ma’ Barata Sebuah pengurbanan yang sangat kontroversial di Toraja pada masa lalu namun srkarang sudah ditiadakan karena alasan tertentu.

Sekarang disini kita akan membahas sedikit mengenai Mangrambu Tampak Beluak dan Umpoya Angin dari bahasa ini sendiri mungkin kita agak akan dibuat bingung apa maksud dari ini,Dalam bahasa indonesia sendiri jika di artikan secara lurus Mangrambu Tampak Beluak = Mengasapi Ujung Rambut,dalam pengertian bahasa Toraja Mangrambu adalah istilan pengupacaraan secara adat sesuai Aluk yang ada di masyarakat,Sedangkan yang dimaksud dengan Umpoya Angin = Memukat Angin, Istilah di atas adalah sebuah cara mengupacarakan seseorang yang meninggal di luar daerah dan jenazahnya tidak sempat di temukan ataukah tidak utuh entah itu karena keluarga bersangkutan hanya mendapat atau mendengar kabar kematian keluarganya tersebut yang dilakukan dengan cara membungkus angin atau membawa ujung rambut / kuku dari jenasah tersebut.karena Dalam Aturan Aluk Todolo setiap orang yang telah meninggal harus di upacarakan supaya arwahnya dapat diterima menjadi arwah yang baik di puya dan menjadi To Mebali Puang yang diyakini dapat memperhatikan keturunan-keturunannya,Sala satu informasi yang kami terima dari Ne’ Toding [karatuan]/kesu'(15/sept 2018) memaparkan bahwa dia pernah mengalami sendiri kejadian serupa ketika saudara di poso meninggal namun jenasahnya tidak ditemukan lagi sehingga diupacarakan dengan menguburkan salah satu pakaian favoritnya dan ini dikategorikan sebagai “Mangrambu tampak beluak”

Nah oleh karena alasan-alasan di atas yaitu sebuah kewajiban dalam Aluk Todolo untuk mengupacarakan Jenasah orang yang telah meninggal secara wajar walaupun tampa jenasah dan jika kita perhatikan sesuai keyakinan yang lain atau di tempat yang lain di luar sana mungkin philosofinya tidak jauh berbeda yaitu memakamkan jenasah secara wajar dengan cara tertentu.

Untuk hal ini di Toraja untuk orang yang mengalami kejadian seperti itu dilakukan dengan dua cara ;

1. Dipoya Angin,Yaitu jika ada seseorang yang meninggal namun jasad tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak ada ujung rambut,ujung kuku,ataupun pakaiannya yang di dapatkan sama sekali seperti seseorang yang meninggal karena tenggelam di laut,ataukah hilang di hutan maka dalam hal ini harus di upacarakan dengan cara Dipoya Angin,dalam ritual ini seluruh ataukah beberapa keluarga pergi ke gunung membawa sebuah sarung yang baru untuk memukat angin caranya dengan mrngikat sala satu ujung sarung dan diarahkan ke arah datangnya angin,angin yang menggelembung dalam sarung tersebut akan ditangisi oleh para perempuan yang ikut,dan sesegerah mungkin ujung yang satu di ikat oleh pria sehingga sarung tersebut terisi oleh angin yang menggembung didalannya,saat itu diyakini bahwa arwah dari mendiang yang telah dianggap meninggal tadi telah masuk bersama angin kedalam sarung tadi,kemudiang sarung itu dibawa ke tongkonan untuk dibungkus menyerupai bundaran balun (peti bungkus orang Toraja) dan di anggap sebagai jrnasah orang yang mebinggal tadi,replika jenasah ini krmudian di upacarakan sesuai kasta orang tersebut yang pada umumnya dilakukan dengan di pa sang bongi (satu malam) namun mengurbankan lebih dari satu ekor kerbau yang kulitnya (balulang) tidak dilepas dari daging/di iris bersamaan kemudian Tominaa mengucapkan Untaian kata dari Bala’kaan duku’ (menara daging) untuk mengungkapkan kesetiaan keluarga dan mendiang dan mrnerangkan bahwa arwahnya telah di rekondasikan untuk dapat diterimah secara wajar di alam baka (Puya).

2.Mangrambu Tampak Beluak,yaitu upacara pemakaman dimana yang yang di upacarakan hanya ujung rambut,ujung kuku,ataukah hanya pakaiannya saja yang dibungkus namun jenasahnya dikuburkan jauh dari negerinya sendiri dalam Aluk todolo mengupacarakan ujung rambut,kuku atau pakaiannya saja seperti di atas dalam hal ini sudah dianggap sebagai jenasah aslinya yang kemudian di upacarakan sesuai tingkatan kastanya di masyarakat , dan biasanya juga kemudian hari keluarganya pergi mengambil jenasah yang dikuburkan jauh tadi dengan digali kemudian jasad atau tulang belulang yang masih ada dikumpulkan lalu di kubur secara layak di kampung halamannya kembali yang disebut mangkaro batang rabuk meski begitu keluarga tetap harus mengurbankan seekor hewan apakah itu babi atau ayam.

duplikiasi/yang di anggap jenazah

Demikianlah sedikit ulasan tentang upacara pemakaman yang disebut URRAMBU TAMPAK BRLUAK DAN UMPOYA ANGIN dimana ini adalah bagian dari Tatanan upacara dalam Aluk Todolo,Dan tentu saja ini hanyalah bagian kecil dari keunikan yang ada di Tondok lepongan bulan Tana matari’ allo,untuk tetap melihat dan mendapatkan info luar biasa lainnya sahabat sangtorayan bisa mengikuti kami di facebook fans page Sangtorayan .

Salama’ Sangtorayan

source : i love tana toraja


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kategori