Simbuang Batu Rante,Menhir Dari Era Megalitikum Toraja Yang Masih Dipertahankan Hingga Kini.

Barisan batu berdiri tegak dengan model dan ukuran berbeda-beda seolah batu itu hidup berdampingan dalam suatu rumpun keluarga di halaman nan luas,Sudah sangat sering kita lihat beberapa tempat di Toraja,

Tak jarang gambar ini juga kita jumpai di pose teman-teman seperti instagram,facebook,twitter dan jaringan media sosial lainnya berlatarkan pemandangan ini baik itu wisatawan dari luar maupun penduduk lokal.

Yah,entah itu karena mereka bangga bahwa batu tertanam tegak tersebut sarat dengan makna dalam Budaya dan Adat Toraja ataukah cuma sekedar Gaya-gaya-an saja,

Tidak heran karena tatanannya terkesan sangat artistik dan eksotik namun sebenarnya itu bukanlah pemaknaan utama dari Batu warisan era megalitik itu yang datang dari masa yang kita kenal dengan JAMAN BATU.

Masyarakat Toraja menamainya “Simbuang”/Batu Rante,Disebut Batu rante karena batu ini tertanam berderet di sebuah Rante yaitu halaman luas terletak berdekatan dengan rumah Tongkonan khas Toraja dimana Rante ini adalah tempat berlangsungnya prosesi UPACARA ADAT Pemakaman Seorang Tokoh Berstatus Bangsawan atau pemangku dari Tongkonan di wilayah tersebut.

Tidak semua orang layak untuk hal ini karena dalam deretan tangga kasta menurut Aluk biasanya yang memenuhi syarat dengan status tertinggi Rapasan/Di Rapai’ dengan istilah Tunuan/Kurban Sapurandanan yaitu mengurbankan sekurang-kurangnya 24 Ekor Kerbau dengan empat macam jenis.

Dilengkapi beberapa macam binatang lainnya (Angge menono’) walaupun pelengkap itu tidak harus di adakan dan biasanya seadanya saja yang bisa di adakan hingga mencapai semua tatanan dalam adat kapealukan dan berakhir dengan Rapasan Sundun.

Tatanan upacara dalam prosesi pemakaman (Ma’ Lalan Ada’) sangatlah sakral dan kental dengan pemali sesuai Aluk atau aturan adat,oleh karena itu semua harus dipersiapkan dan dilaksanakan secara sistematis sehingga tidak ada yang terlewatkan satu pun,


Kategori