Reaksi Masyarakat dan Aktivis Muda Toraja Untuk Tarian Eran Dilangi’

Heboh dan viral sesaat,inilah yang terjadi dan bergejolak di tengah-tengah masyarakat Toraja beberapa waktu terakhir ini menanggapi trailer tarian Eran dilangi’ yang dilakukan oleh beberapa lelaki mirip banci dengan make up yang norak seiring gerakan-gerakannya yang aneh,muncul di media sosial menurut kabarnya Tarian akan di lakonkan di sebuah acara dengan maksud memperkenalkan budaya dan keunikan Toraja,Berbagai tanggapan pun muncul, Ada yang menanggapi positif dan tak sedikit pula yang memberi kritikan pedas salah satunya tentang aksesoris yang dipergunakan dalam tarian tersebut di anggap berlebihan.

Hal ini dapat kita pantau dan perhatikan dari setiap komentar-komentar yang terpapar di beberapa grup media sosial (facebook) di Toraja oleh sejumlah netizen yang aktif dalam grup yang bergenre budaya menanggapi postingan trailer tarian Eran Dilangi’ tersebut ,

Sebelumnya kita perlu menilik sedikit tentang mitologi Eran Dilangi’ yang telah melegenda di sejarah budaya masa lalu Sangtorayan di mana konon ceritanya Eran dilangi’ (Tangga ke langit) adalah sebuah tangga yang menghubungkan antara langit dan bumi sehingga pada saat itu manusia dan Puang Matua (Tuhan) dapat berkomunikasi secara langsung ,
disinilah tempat diturunkannya manusia pertama (Pong mulatau) dalam versi Toraja Bersama aluk sandapitunna (7777) yaitu aturan dan hukum yang mengatur semua aspek kehidupan yang ada di Toraja kala itu (Aluk Todolo).Dalam kisahnya diceritakan bahwa Eran dilangi’ ini berpankal tepat di daerah Bamba Puang,Kotu,Desa Lawakan (Kabupaten Enrekangg) sekarang ini,secara harafia dalam bahasa Indonesia Bamba Puang artinya Pintu Gerbang Tuhan dalam maksud tempat ini adalah pintu gerbang tempat menghadap Tuhan Sang pencipta alam semesta.Disinilah Pongmula tau (Manusia pertama yan diturunkan dari kayangan) menetap.Namun Hubungan Antara Pong Matua dan Manusia renggang ketika salah satu keturunan Pongmula tau yaitu Londong Dirura melanggar aturan yang telah ditetapkan Oleh Puang Matua yaitu mengawinkan anaknya yang masih bersaudara kandung dengan maksud supaya harta mereka tidak terbagi ke siapapun di luar mereka,Tepat pada hari perayaan pesta tersebut Murka Puang Matua Turun Orang-orang yang hadir pada saat itu mengalami nasib yang tragis Lembah di Rura Tenggelam ditelan Bumi Dan Eran Dilangi’ Pun Diruntuhkan Sehingga Puang Matua dan manusia pun tidak lagi dapat berhubungan secara langsung.saat itu situasi menjadi chaos,dalam ungkapan Bahasa Toraja “Sitampakan ropu sisapuan pala’,siseru bi’ti’ sirumbe takia’,untengkai kalo’ alukna rampanan kapa” yanga artinya saling mengutuk seorang dengan yang lain,saling rampas-merampas dengan adu kekuatan fisik,melanggar aturan adat tentang perkawinan.

Soal penggunaan kata melecehkan atau tidak ada sebuah tanggapan dari Millenial/Aktivis mudah mahasiswa Sastra Ilmu/Budaya Wiwin Andilolo Lewat postingannya di akun media sosial miliknya “Dari berangkatnya saja, maksud untuk memperkenalkan budaya Toraja bernilai positif. Maka untuk penggunaan terma “pelecehan” untuk menekankan ego kita sebagai “pemilik” adalah tidak tepat. Penggunaan istilah pelecehan -meskipun tak diterangkan jelas dalam KBBI setelah saya lacak secara daring- semestinya merujuk pada tindakan merendahkan. Dalam konteks hukum-yang sebenarnya tak mengenal pelecehan tapi tindakan cabul- interpretasinya disandingkan dengan unsur paksaan untuk melakukan sesuatu terhadap kepemilikan atas sesuatu. Singkatnya, penggunaan kata “pelecehan” untuk perspektif bahasanya kurang bijak. Saya ungkapkan ini dalam kapasitas saya sebagai orang yang belajar sastra (konon jenis kami agak sensitif perihal diksi) dan kapasitas saya sebagai paralegal (mengingat kata pelehan dipakai untuk menekankan terjadinya perilaku cabul yang tidak dikehendaki dan dilakukan secara paksa sehingga terkesan kasar untuk membela keluhuran suatu budaya).” dia Menyoal tentang pemilihan kata (diksi) dari sebuah artikel yan diterbitkan oleh jurnalis salasatu media online di Toraja.

Nah sekilas tentang kutipan singkat Mitos eran dilangi’ di atas selanjutnya mungkin inilah yang menjadi inspirasi para pelakon tarian kreasi yang dinamai Tarian Eran dilangi’,Mengenai banyaknya kritikan serta himbauan dari pemerhati budaya di Toraja salah satunya tentang properti yang digunakan dalam tarian tersebut seperti :sepu’,kandaure,dan kaseda kuning bergambar ukiran pa’ barre allo yang di anggap menyalagunakan serta tidak menghargai budaya Toraja oleh beberapa pihak,Wahyu Lahang sebaggai koreografer dari sanggar tari Iyongolong Art Group mewakili meminta maaf kepada masyarakat dan pemangku adat Toraja melalui media online,Seperti kutipannya di laman karebatoraja.com “sebelumnya kami meminta maaf jikalau properti yang kami gunakan menyalahi aturan adat Toraja,Kami sama sekali tidak bermaksud melecehkan,ini murni misskomunikasi (selasa 19 feb/2019) dalam pemaparannya diapun mengunkapkan bahwa sebenarnya mereka bermaksud untuk mempromosikan budaya Toraja,Namun sebelumnya mereka mengangkat tema yang hanya bersumber dari Literatur beberapa sumber di internet tampa ada tinjauan langsung.

Tak luput yang menjaadi kasak kusuk dalam hal ini adalah sudah berapa banyak tarian kreasi yang membawa tema kebudayaan Toraja,Apakah baru ini? tentunya sejauh ini sudah banyak dan akan menyita waktu jika ditelusuri satu-persatu tentang aksesoris yang mereka gunakan ,ini dapat kita jumpai di beberapa sanggar tari yang dilakonkan di berbagai pertunjukan mereka.Bahkan di Dunia fashion ada yang membawa tema kebudayaan Toraja ke ajang internasional dengan maksud yang sama yaitu meperkenalkan budaya Indonesia Khususnya Di Toraja,

Salah satu contonya adalah ajang Manhunt Korea selatan 2011(kontes pria berbakat sejagat)yang di ikuti oleh 48 negara,Yohanica Yanuart sebagai perwakilan indonesia dikatakan sukses menyabet predikat The best natinal costume dan masuk di top 15,kala itu dia mengenakan kostum modifikasi dari pakaian adat toraja “seppa tallung buku” yang di desain sedemikian rupa oleh Dynan Fariz-Jember fashion carnaval yang bertemakan “Mistical Toraja” (indonesiaproud.wordpress.com),dan yaaa…dia membawa nama Toraja…! disini ia menggunakan busana yang sepertinya tak lazim di Toraja,pada kostumnya terpampang tiga pasang tanduk di depan yang tidak jelas itu tanduk apa,sepasang di bagian kepala,sepasang di punggung,dan sepasang di bagian paha yang sekiranya ikut menutupi kemaluannya,untaian ekor yang merupakan susunan dari beberapa tanduk,di bagian lengan terdapat sayap menyerupai sayap kelelawar dengan hanya menggunakan celana short hitam,sepertinya ini mengingatkan kita pada siluman yang tayang di sinetron laga indo…r yah,Apakah Toraja se seram itu?

Wakil indonesia di ajang Manhunt Korsel,mengenakan modifikasi pakaian seppa tallung buku dengan tema Toraja Mistical dan meraih the best national costum.

Selanjutnya di ajang Miss Supranational 2015 Masih dengan tema dan designer yang sama,Gresya Amanda sebagai perwakilan Indonesia berhasil memenangkan kategori best costum Miss Supranational denggan menggunakan kostum bernuansa rumah Tongkonan(teen.co.id) membalut tubuh wanita dengan penampilan seksi itu.
wah kalau mau berceloteh sedikit tentang ini,Jika saja hal ini dikategorikan sebagai pelanggaran,penyalagunaan ataukah sebuah pelecehan,Masyarakat,Dispar dan Pemangku adat Toraja kemana waktu itu? Apakah karena si Wahyu ini lagi sial saja kali yahh ? hehe mau tttongg lolos.

Perwakilan indonesia di ajang Miss Supranational,memenangkan kategori best costum,dan beberapa karya desain Dynan Fariz-Jember fashion carnaval dengan tema Toraja Mistical.

Dari kronologi di atas sampai pada situasi saat ini beberapa pantauan dari tim Padatindo bahwa walaupun Di Toraja tidak ada aturan paten tertulis tentang penggunaan aksesoris budaya seperti disebutkan sebelumnya namun turun-temurun telah diwariskan secara lisan dan selama ini telah di disepakati dan dilakukan bersama dengan petunjuk dari pemangku adat setempat tentang tata letak dan kapan benda/aksesoris tersebut digunakan,Contohnya sepeti kaseda atau kain bermotif ukiran yang membentang terdapat dua jenis berdasarkan warna yaitu merah dan kuning,biasanya yang berwarna merah dipakai dalam upacara rambu solo'(kedukaan) sedangkan yang berwarna kuning dominan digunakan dalam acara rambu tuka’ (sukacita/syukuran,pernikahan),Di masyarakat Toraja Hal ini bukan lah sebuah hal yang di anggap kekurangan walaupun di masa lampau,Kala itu masyarakat Toraja Belum mengenal aksara atau tulisan untuk mengabadikan semuanya namun prinsip dan filopsophy kehidupan dituangkan dalam ukiran yang biasa kita jumpai di semua sisi rumah Tongkonan dan beberapa aksesoris dalam kesehariannya…Dan walaupun sebagian besar masyarakat toraja telah menganut ke-Kristenan namun tetap diyakini tentang Pemali jika melanggar aturan adat(Aluk) yang di istilahkan ullambe-lambe aluk.Bagaimana Cukup unik bukan?

Sekiranya sudah menjadi hal yang lumrah Siapa pun yang merasa keberadaannya terusik oleh sesuatu hal,untuk mempertahankan prinsip dan warisan leluhur akan berusaha berjuang untuk mengembalikannya ke jalur yang di aggap benar,Begitu pun masyarakat Toraja dalam menyikapi hal di atas yang dilakonkan oleh orang yang notabene bukan orang Toraja,dimana kita ketahui bahwa hal-hal/benda yang berkaitan dengan pelestarian budaya dilindungi oleh negara yang di atur dalam undang-undang no.5 Tahun 1992,inilah yang perlu diperhatikan oleh teman-teman atau siapapun yang ingin megorek tentang budaya di Toraja,hendaknyalah kita saling menghargai bagaimanapun keadaannya.“Sepengetahuan saya tidak ada sih aturan tertulis yang resmi tentang penggunaan akasesoris budaya Toraja namun adanya lisan,akan tetapi masyarakat Toraja meyakini ada hukum alam yang akan menimpah kita jika mengabaikan/melanggar aturan tersebut, bahkan saya pernah menyaksikan sendiri alang(lumbung) yang rebah beruntun akibat ada apelangaran adat dalam tatanan rambu solo” pungkas Windy (22-2/2019) Salah satu pemuda Toraja penggiat Sosial media yang yang aktif sebagai pemerhati budaya Toraja

Dan kita sendiri sebagai masyarakat Toraja, Dari kejadian di atas yang bersangkutan telah mengutarakan permohonan maaf dan dipaparkan pula maksud dari kagiatan mereka bukanlah untuk melecehkan Budaya Toraja Bahkan dengan niat mempromosikan keunikan Tersebut.Di suatu sisi mungkin kita bisa belajar menghargai maksud mereka tersebut walaupun dalam realitanya ada yang di anggap janggal dan tidak sesuai namun kiranya merekapun telah mempertimbangkan untuk mengganti dan menyesuaikan aksesoris untuk pementasan yang akan mereka lakoni tersebut ,Marilah kita memperlihatkan ciri khas kita sebagai warga yang baik dan ramah terhadap siapa pun,Dan kiranya itulah citra kita sebagai orang Toraja.

Salama’ Sangtorayan

 

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Reaksi Masyarakat dan Aktivis Muda Toraja Untuk Tarian Eran Dilangi’ […]

Kategori

Enable referrer and click cookie to search for pro webber