Menempa Batu peristirahatan menuju alam selanjutnya.

Berbeda dengan kuburan pada umumnya,mungkin ada yang berpendapat bahwa ini cuma bkin kerjaan saja,bikin repot,cara membuatnya bagaimana? dan sebagainya,Seperti yang kita kethui biasanya penguburan dilakukan dengan dimasukkan kedalam tanah atau bangunan tertentu disinilah yang agak berbeda dengan jenis kuburan yang satu ini,Namun inilah Toraja yang penuh dengan keunikan yang kadang membawa orang berimajinasi tentang hal ini.

proses pembuatan kuburan batu di tebing “LEMO” Dengal peralatan sederhana

Suku Toraja dalam paham Aluk todolo (Agama Leluhur) Meyakini bahwa setelah mengalami kematian secara medis itu bukanlah akhir dari perjalan hidup sesseorang,namun akan beralih ke alam kehidupan berikutnya (Puya),sehingga kadang pengupacaraan untuk orang-orang tertentu sangat di istimewahkan bahkan mungkin sebagian orang akan menganggap ini adalah sesuatu yang berlebihan, sehingga dikurbankanlah hewan-hewan seperti kerbau dan babi dalam hal ini hewan tersebut akan digunakan sebagai kendaraan yang akan mengiring arwah mendiang ke alam selanjutnya,namun semua itu tidak terlepas dari aturan Peradatan suku Toraja yang kemudian di sesuaikan juga dengan kemampuan keluarga’ puncak tertinggi pada suatu upacara adat Toraja (kasta teratas) di sebut Sapurandanan-Rapasan(Lengkap) dan ini biasanya diperuntukkan bagi bangsawa dan mereka yang mampuh.

Di Toraja sendiri ada beberapa bentuk penguburan setelah dilangsungkan upacara adat tadi seperti dimasukkan ke patane (bentuk kuburan seperti rumah kuburan bersama rumpun keluarga),Di silli’ yaitu dimasukkan kedalam pohon besar biasanya dilakukan untuk bayi,walaupun ada ditemui penguburan kedalam tanah seperti umuumnya di daerah-daerah lain namun sebelumnya dari jaman nenek moyang Suku Toraja Penguburan dilakukan dengan menempatkan mayat di tebing-tebing tinggi berlubang,dan ada pula yang digantung petinya di atas ketinggian tebing bukit/gunung,Dengan harapan semakin tinggi tempatnya maka semakin dekat ia dengan Puang Matua (Tuhan) dan mempercepat arwahnya menuju ke alam Selanjutnya yang konon katanya posisi paling tinggi ini diperuntukkan bagi para bangsawan atau tokoh pemimpin tertentu.

Tentang penguburan batu di tebing tinggi tentu proses pembuatannya tidaklah gampang dan tidak lepas dari aturan Adat, untuk proes pembuatan lubang(galian batu) hanya di gunakan peralatan sederhana yaitu palu dan pahat batu (betel),Tangga bambu,selain itu jika menggunakan alat-alat serba modern bisa memicu getaran yang bisa mengakibatkan retak dan bisa mendatangkan celaka bagi pekerja kuburan ini mengingat besarnya volume galiannya walaupun dari depan sepintas hanya seukuran 1×1 m namun itu hanya bagian pintu saat masuk ukurannya meluas dan terbentu seperti ruangan,mengerjakan galian batu kuburan ini juga tidak dikerjakan oleh sembarang orang namun dilakukan oleh orang-orang tertentu yang sekiranya sudah terampil,ketelatenan ini juga biasanya diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga meski begitu resiko yang tinggi harus tetap di hindari,Ini adalah sala satu dari beberapa tradisi megalitik di Indonesia yang tercatat dalam sejarah dan yang terus berlanjut ada di Toraja hal ini diungkapkan oleh Haris Sukendar Di bukunya yang berjudul (Album tradisi megalitik di Indonesia/1996)

Untuk memulai kegiatan ini sesuai ketentuan Adat,Para keluarga berkumpul bersama dengan orang yang akan mengerjakan kuburan dan dikurbankan seekor ternak misalnya Ayam untuk persembahan dara pada saat pertama kali menempa batu,Babi,Bahkan ada juga yang mengurbankan kerbau utuk hal semacam ini namun ini juga disesuaikan dengan kemampuan serta keputusan keluarga yang bersangkutan.

Masa waktu pembuatan kuburan ini kadang berlangsung lama yaitu berkisaran tiga-enam bulan lamanya oleh karena itu pekerja ini kadang harus membuat tempat penginapan/tenda di lokasi penguburan itu,karena tingginya resiko dan pemaksimalan tenaga dalam proses pembuatannya upahnya pun tidak dihargai secara main-main yaitu dari 60-150 juta dimana tinggi rendahnya tawaran ini juga oleh faktor kekerasan batu yang akan di tempah pahat tersebut,nominal ini di sebutkan oleh sala seorang pekerja gali kuburan batu di Pekuburan Lemo,Buntang,Tana Toraja bernama Matius P./63,(30-8/2017).

Pekuburan jenis ini terdapa di beberapa tempat di Toraja Seperti :

  • Lemo(Rntelemo)
  • Suaya(Sangalla’)
  • Lo’ko’ Mata (Batutumonga)
  • Sirope
  • Tampang Allo
  • Pala’ Tokke Dll.

Yang terterah di atas tentunya hanyalah tempat-tempat yang populer bagi kalangan wisatawan,masih banyak tempat lain yang masih mempraktekkan kegiatan ini seperti Toraja bagian tikala,pangala,baruppu’ yang merupakan daerah pegunungan,jika kita melakukan perjalanan ke atas akan banyak kita jumpai pekuburan-pekuburan model ini.

Salama’ Sangtorayan

Kategori

Enable referrer and click cookie to search for pro webber