Andi Sose’,Sosok yang lain di mata sejarah Sangtorayan

Di tengah riuh dan di pujanya Sosok Sang Maestro Andi Sose’ dari berbagai kalangan masyarakat,yang telah berpulang pada hari selasa (26 Maret 2019) pagi,Berbagai ucapan bela sungkawa pun datang dari beberapa petinggi Tokoh lainnya sebagai sebuah penghargaan terhadap jasa dan perannya di masyarakat sebagai Tokoh yang dinobatkan sebagai pahlwan itu .

Namun dibalik sisi kepahlawannya itu ada cerita lain di beberapa kalangan yang tentunya tidak lepas dari gumam sejarah turun-temurun dan kulik peristiwa yang di alami oleh pendahulu mereka yang ada di masa itu,Dan sala satunya adalah Masyarakat Toraja yang menyimpan cerita kelam di masa kepemimpinan Kapten Andi Sose’ sebagai motor Batalion 720 dalam pergerakannya di Bumi Lakipdada pada tahun 1950-an.Sampai saat ini di kalagan msyarakat Toraja bahkan milenial yang sempat mendengar cerita dari orangtua mereka menganggap bahwa Andi Sose’ pada jaman yang mereka sebut masa gerombolan itu adalah sosok yang jahat dengan hasrat berkuasa yang melancarkan niat buruknya itu dengan membunuh dan membakar Rumah-rumah Tongkonan (Rumah adat Toraja) yang kita ketahui dari masa-ke masa bahwa Tongkonan adalah pusat atau tempat membicarakan serta mengambil keputusan penuh untuk dilakukan bersama dalam satu rumpun.

Dan ini bukanlah masalah Tudingan belaka namun pelaku sejarah,jurnalis serta para sending yang bertugas menyebarkan keKristenan dan firman Tuhan kala itu beberapa di antara mereka mengabadikan semua momen bersejarah tersebut dalam buku mereka.

Dalam kutipan Terance Bigalke dalam bukunya (Social History of Tana Toraja 1970-1965) yang terbit pada tahun 1981 ; Bahwa Para pemimpin Kristen melihat Andi Sose’ sering melakukan hal-hal yang kerap merugikan masyarakat toraja terutama yang memeluk agama Kristen dan sebaliknya selalu menguntungkan bagi orang-orang islam,dari pandangannya sendiri menganggap bahwa pemimpin-pemimpin Kristen Toraja kala itu adalah penghalang serta saingan untuk menguasai Daerah di Toraja.

Seakan tampa dapat tertahankan Pasukan Sose’ (Gerombolan) membakar rumah-rumah,Lumbung-lumbung padi,dan sekolah-sekolah yang ada.

Ada beberapa isu yang memberi alasan masyarakat toraja benci bahkan memusuhi Andi Sose,selain kasak-kusuk tentang pelecehan wanita/gadis-gadis Toraja oleh bawahan-bawahannya,Diks Pasande dalam “Politik Nasional dan Penguasa Lokal di Tana Toraja” Dalam bukunya Antara Daerah Dan Negara : Indonesia Tahun 1950an terbit pada tahun 2011 menuliskan kebencian itu berdasar dari adanya isu “Islamisasi” terhadap orang toraja yang telah beragama Kristen juga untuk yang masih menganut kepercayaan Aluk Todolo(Agama Lokal Masyarakat Toraja kala itu),dilanjutkan isu akan adanya pembangunan mesjid di tengah kolam kota makale.

Melihat kondisi yang kian meprihatinkan tersebut Franz karangan sebagai putra daerah yang notabene adalah anak buah dari Andi Sose dimana dia sebelumnya adalah komandan kompi,Tergerak hatinya dan berbalik melakukan perlawanan sebagai sebuah Tanggung jawab moral dan solidaritas se-suku serta rasa keterancaman membuat Franz Karangan bersama dengan para serdadu Toraja angkat senjata melawan Andi Sose,Dia meliburkan tentara-tentara Toraja yang ada di dalam kompinya di Palu,ada juga dari Palopo dan Makassar untuk kembali mudik ke Toraja dan bersatu padu melawan Koalisi Andi Sose di Toraja, Sala satu diantaranya yang berpangkat tinggi dan berperan penting dengan gigih dalam perjuangan ini adalah Pappang.

Gerakan dan persiapan penyerangan dimulai dari Bori’ dengan di awali sebuah upacara adat yang di pimpin oleh seorang pemuka paham Aluk Todolo (Tominaa),Penyerangan saat itu dipimpin langsung oleh Karangan (4 April 1953) yang selanjutnya berkumpul di Rantepao lalu menghajar Pasukan kompi 720 pimpinan Sose meski setelahnya Sose dan anak buahnya pun masih bisa bertahan namun pertempuran paling menetukan terjadi pada tanggal 11 setelahnya Karangan dan pasukan kompi 422/Diponegoro yang bersimpati dan ikut membantu masyarakat Toraja dengan strategi yang matang pasukan Sose di ajak naik seakan-akan pasukan Karangan kalah dan mundur ke daerah atas pegunungan,setibanya di pangala’ mereka sudah kelahan dan di hantam habis-habisan oleh pasukan yang di pimpin langsung oleh Semuel Tappang walau rumor beredar bahwa Sose dan kawanannya kebal senjata,masyarakat tidak gentar lagi dengan semua itu,kebanyakan dari anak buah sose’ mengalami luka ada juga yang di tawan,Karangan cs pun berhasil menduduki kota Makale dan sejak saat itu bersama pasukan-pasukannya Andi Sose bertolak ke arah selatan pompanua (Bone).

Terkait beredar isu belakangan di aekitaran selatan Toraja dan daerah kelahiran andi Sose’ bahwa Perlawanan Franz karangan kala itu karena di dasari hasrat yang sama yaitu kekuasaan dan pangkat serta membangun pasukan yang lebih kuat namun beliau tetap menjadi sesuatu yang spesial di hati masyarakat Toraja sebagai sosok pahlawan Dan di nobatkan setara dengan Pong Tiku (Pahlawan Nasional) dari daerah Toraja.setelah suksesnya strategi perlawanan tersebut di atas pasukan karangan di tarik kembali ke Palu,pasukan diponegoro di tarik ke jakarta digantikan pasukan brawijaya jawa timur,dan giliran pemimpin-kristen di Toraja degan mengejutkan memberi prestise sebagai luapan kekesalan mereka bahwa kekalahan sesungguhnya dirasakan oleh sebagian elit tradisional dan masyarakat muslim yang ada daerah Tallu lembangna yang diketahui berpihak kepada Andi Sose’ kala itu yang sadar diri dan melarikan diri bersama anak buah Sose’ yang telah mengundurkan diri untuk sementara waktu (lanjut Bigalke dalam kutipan Bukunya)

Cerita singkat di atas bukanla sebuah statemen untuk menyudutkan dan sebagainya namun intinya adalah melawan pembelokan sejarah.

Suasana di tempat duka wafatnya
BRIGJEN TNI (Purn) Dr. H.ANDI SOSE

Seperti yang kita ketahui bapak BRIGJEN TNI (Purn) Dr. H.ANDI SOSE (Founder yayasan 45) Makassar Telah wafat dan meninggalkan bannyak cerita,terlepas dari kejadian masa itu di Toraja namun hendaknya lah sebagai masyarakat Toraja yang sudah semakin dewasa dalam memaknai semuanya jika ada tersisa perasaan marah apalgi dendam marilah kita menerima itu dengan hati lapang untuk kiranya saling memafkan menuju persatuan yang lebih baik di negeri Tercinta ini karena itulah citra kebaikan yang melekat sebagai warisan nenek moyang kita.

Salama’ Sangtorayan

Kategori

article & blog subscribe

Masukkan Alamat email anda

Enable referrer and click cookie to search for pro webber