Aluk Sanda Saratu’: Tata Duniawi Masyarakat Toraja

Penyebaran Aluk Sanda Pitunna pada abad XII yang dilakukan oleh kesembilan anak Ma’dika Tandilino telah membentuk tiga daerah adat besar dengan masing-masing gelar penguasa dan dasar Lesoan Aluk kapemalaran atau pemujaan dan persembahan

Di bagian Timur daerah Lessoan Aluk menggunakan gelar Ambe’, di bagian tengah menggunakan gelar Puang dan bagian barat menggunakan gelar Ma’dika.

Aluk Sanda Pitunna yang disusun oleh Tangdilino’ dan Pong Sulo Ara’ lebih lanjut dalam perkembangannya ada pula yang menyebutnya sebagai Aluk Todolo (To berarti orang dan dolo berarti leluhur) serta dikenal pula dengan sebutan Alukta dimana sufiks “a” berarti kita.

Aluk Sanda Pitunna dianggap sebagai Aluk Todolo maupun Alukta karena dianggap sebagai ajaran mula-mula yang bersumber dari Sukaran Aluk.

Di abad XIII, penyebaran Aluk Sanda Pitunna dilanjutkan ketika Toraja memasuki gelombang atau zaman baru dengan munculnya Tomanurun-tomanurun atau orang yang turun dari langit yang menurut sejarah merupakan orang-orang cerdas lagi pula cerdik dalam mendekatkan diri dengan masyarakat.

L.T. Tangdilintin, Buku Toraja dan Kebudayaannya, Hal.43-Silsilah Puang Tomanurun di daerah adat padang dipuangi dan pewaris aluk sanda saratu’

Kebijaksaanaan mereka diakui karena mengajarkan cara bercocok tanam dan beternak dengan baik sehingga Tomanurun juga dianggap sebagai pribadi yang maha-tahu dan saleh.

Hal ini dibuktikan dengan bagaimana Tomanurun juga membimbing orang Toraja dalam memuja dan menyembah Pong Matua sebagaimana yang tersirat dalam Aluk Sanda Pitunna.

Menurut sejarah (Tangdilintin:1981), ada beberapa Tomanurun yang datang di Toraja tetapi ada tiga Tomanurun yakni; Tomanurun Manurun di Langi’ di Kesu’, Tomanurun Tamboro Langi’ di Kandora dan Tomanurun Mambio Langi’ di Kaero yang ketiganya cukup terkenal karena kedatangannya membawa tatanan baru sebagaimana Tomanurun Tamboro Langi’ yang menciptakan Aluk Sanda Saratu’.

Ketiga Tomanurun ini juga menggunakan gelar Puang karena ketiganya datang di daerah adat kapuangan atau padang di puangngi yang di mana penguasa-penguasa adat menggunakan gelar Puang. Adapun kedatangan Puang Tomanurun Tamboro Langi’ di daerah adat kapuangan bagian selatan menyebabkan daerah tersebut melaksanakan dua ajaran yakni Aluk Sanda Pintunna dan Aluk Sanda Saratu’.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kategori